Kata-kata "Udahlah realistis aja", "Yang pasti-pasti aja", "Gausah terlalu berharap, nanti kalo jatuh sakit","Kayanya ngga mungkin deh, ngga usah ajalah" sering kali jadi ucapan jitu untuk meluluh-lantakan impian diri sendiri bahkan orang lain !! Kata-kata yang begitu sederhana dapat menghancurkan semua impian diri sendiri yang begitu besar bahkan menular untuk menghancurkan impian besar orang lain ! Sekarang pertanyaanya adalah, kenapa harus berkata seperti layaknya kita yang mengatur nasib baik dan buruk ? Kenapa kita harus berkata layaknya kita yang mengatur rezeki ? apa gunanya kata-kata yang tidak bermutu seperti itu sering terucap bibir ? dan mau sampai kapan jadi "situkang nyerah" ?
Saya punya seorang teman, beliau seorang wanita yang jarak umurnya beberapa bulan lebih muda dari saya, kami sempat satu SMP dan satu organisasi, setelah lulus beliau maju kejenjang SMA yang notabene SMAnya adalah SMA bonafide, dan beliau ini merupakan salah satu siswi berprestasi dibidang akademik dengan mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang Kebumian pada masanya. Setelah lulus beliau mencoba ikut SNMPTN, namun beliau gagal, lalu mncoba SBMPTN dan ternyata kegagalan lagi yang diterima olehnya, tidak berhenti disitu, Ia tetap berjuang di tengah kesedihannya dan kegagalanya, menyembunyikan keluh kesahnya dihadapan orang lain. singkat cerita ia telah mecoba lebih dari 10 kali test masuk baik itu keperguruan tinggi negeri atau ke sekolah tinggi kedinasan. Masa-masa sulit Ia jalani, tetap berjuang walau dengan sedih hati, sampai sempat ia berkata "Saya lupa rasanya berhasil"
Namun rencana Allah memang yang terbaik, yang terbaik untuk orang-orang baik, Bila kemarin ia gagal dan tetap berusaha, sekarang ia berhasil memetik buahnya. Sekarang ia berhasil lolos di salah satu Universtas bonafide Di Indonesia -yang tidak saya sebutkan namanya- dan yang terpenting ia tetap menjadi sosok yang rendah hati, Insya Allah.
Yang harus dicamkan adalah, Dunia ini tidak adil kawan ! Ia tidak mampu mengingat semua nama. Ia hanya mampu mengingat sedikit nama, Mereka yang diingat adalah mereka yang melakukan suatu hal yang lebih dari biasanya, dan diluar dari biasanya. Dunia tidak akan pernah mengingat nama-nama mereka yang hanya menyerah pada keadaan, yang dalam hidupnya hanya ada keluhan pada kesusahan.
Saya punya seorang teman, beliau seorang wanita yang jarak umurnya beberapa bulan lebih muda dari saya, kami sempat satu SMP dan satu organisasi, setelah lulus beliau maju kejenjang SMA yang notabene SMAnya adalah SMA bonafide, dan beliau ini merupakan salah satu siswi berprestasi dibidang akademik dengan mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang Kebumian pada masanya. Setelah lulus beliau mencoba ikut SNMPTN, namun beliau gagal, lalu mncoba SBMPTN dan ternyata kegagalan lagi yang diterima olehnya, tidak berhenti disitu, Ia tetap berjuang di tengah kesedihannya dan kegagalanya, menyembunyikan keluh kesahnya dihadapan orang lain. singkat cerita ia telah mecoba lebih dari 10 kali test masuk baik itu keperguruan tinggi negeri atau ke sekolah tinggi kedinasan. Masa-masa sulit Ia jalani, tetap berjuang walau dengan sedih hati, sampai sempat ia berkata "Saya lupa rasanya berhasil"
Namun rencana Allah memang yang terbaik, yang terbaik untuk orang-orang baik, Bila kemarin ia gagal dan tetap berusaha, sekarang ia berhasil memetik buahnya. Sekarang ia berhasil lolos di salah satu Universtas bonafide Di Indonesia -yang tidak saya sebutkan namanya- dan yang terpenting ia tetap menjadi sosok yang rendah hati, Insya Allah.
Yang harus dicamkan adalah, Dunia ini tidak adil kawan ! Ia tidak mampu mengingat semua nama. Ia hanya mampu mengingat sedikit nama, Mereka yang diingat adalah mereka yang melakukan suatu hal yang lebih dari biasanya, dan diluar dari biasanya. Dunia tidak akan pernah mengingat nama-nama mereka yang hanya menyerah pada keadaan, yang dalam hidupnya hanya ada keluhan pada kesusahan.
“Dan janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa daripada rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur.” (Q.S. Yusuf: 87)
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)
“Wahai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan melalui Sabar dan Shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan benar-benar akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) yang apabila mereka tertimpa musibah mereka mengatakan “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali”(Q.S. Al-Baqarah: 155-156)
“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)


